BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Penggunaan Televisi sebagai media elektronik dalam
penyiaran agama akan semakin penting pada zaman teknologi komunikasi dan
globalisasi informasi dewasa ini. Televisi dapat menjangkau khalayak pada
wilayah yang luas. Penyiaran agama melalui Televisi dapat menjangkau khalayak
pada wilayah yang luas dan pesan-pesan yang disampaikan dapat di lihat langsung
oleh khalayak.
Pada Decade belakang ini, yakni sejak decade tahun
1990-an telah berdiri beberapa stasiun Televisi Siaran yang diselenggarakan
oleh pihak swasta dan berakibat kepada semakin banyaknya siaran dakwah Islam
yang disiarkan oleh Televisi, Setelah sebelumnya siaran dakwah Islam lewat
Televisi hanya dapat dinikmati melalui TVRI. Peningkatan jumlah siaran dakwah
Islam lewat Televisi, tidak hanya terjadi pada jumlah jam tayangnya, tetapi
juga menyangkut pada jenis dan materi dakwah Islam yang dilaksanakan. Saat
Sekarang ini ada beberapa acara dakwah Islam yang dilaksanakan atau disiarkan
oleh Stasiun Televisi, sebut saja misalnya Sentuhan Qolbu di Trans TV, Duet
Tausyiah di TPI, Cahaya Iman di Indosiar, Hikmah Fajar di RCTI dan Kuliah
Shubuh di TPI. Selain itu, terutama pada bulan Ramadhan Stasiun Televisi
siaran, rame-rame membuat berbagai acara dakwah Islam, yang pada umumnya
disiarkan pada saat menjelang berbuka puasa dan pada saat sahur.
Penyiaran atau penayangan berbagai acara dakwah Islam
melalui televisi ini, tentu saja menimbulkan daya tarik, minat dan persepsi
tersendiri bagi para pemirsa televisi, apakah itu dikalangan kaum bapak maupun
dikalangan kaum ibu. Bahkan sangat mungkin memberikan efek tersendiri bagi para
pemirsa televisi. Adanya berbagai manifestasi dari pemirsa televisi terhadap
acara dakwah Islam, kemungkinan besar disebabkan oleh bervariasinya materi dan
kemasan dakwah Islam yang disajikan. Meskipun materi dakwahnya sama, namun jika
disajikan dalam kemasan atau bentuk dakwah yang berbeda, tentu akan memberikan
minat yang berbeda dari pemirsanya.
Pada dasarnya setiap agama berusaha untuk menyiarkan ajaran-ajaran agamanya, terutama agama Islam. Bagaimanapun, Islam sebagai agama dakwah, ajaran-ajarannya harus senantiasa disampaikan kepada umat Islam atau kepada seluruh umat manusia. Setiap muslim yang telah akil baligh wajib berdakwah sesuai dengan kemampuan masing-masing (qs.16:125). Dakwah itu juga mestilah dilaksanakan secara bijaksana sesuai dengan keadaan dan perkembangan masyarakat. Dalam pelaksanaan dakwah, harus dimanfaatkan hasil kemajuan sains dan teknologi agar pelaksanaan dakwah itu dapat berjalan dengan baik. Dengan kata lain, segala aspek kehidupan dapat dimanfaatkan untuk berdakwah dalam rangka mencapai tujuan secara efektif dan efisien.
Televisi merupakan salah satu teknologi komunikasi yang perlu mendapat pemanfaatan maksimal dalam pelaksanaan dakwah. Peranan televisi dirasakan semakin penting, akibat semakin canggihnya teknologi komunikasi dan informasi. Berbagai ide, gagasan, pesan, ajaran dan ideologi dapat disampaikan secara luas melalui pemanfaatan. televisi. Televisi amat sesuai digunakan sebagai salah satu media penyiaran dakwah.
Pada dasarnya setiap agama berusaha untuk menyiarkan ajaran-ajaran agamanya, terutama agama Islam. Bagaimanapun, Islam sebagai agama dakwah, ajaran-ajarannya harus senantiasa disampaikan kepada umat Islam atau kepada seluruh umat manusia. Setiap muslim yang telah akil baligh wajib berdakwah sesuai dengan kemampuan masing-masing (qs.16:125). Dakwah itu juga mestilah dilaksanakan secara bijaksana sesuai dengan keadaan dan perkembangan masyarakat. Dalam pelaksanaan dakwah, harus dimanfaatkan hasil kemajuan sains dan teknologi agar pelaksanaan dakwah itu dapat berjalan dengan baik. Dengan kata lain, segala aspek kehidupan dapat dimanfaatkan untuk berdakwah dalam rangka mencapai tujuan secara efektif dan efisien.
Televisi merupakan salah satu teknologi komunikasi yang perlu mendapat pemanfaatan maksimal dalam pelaksanaan dakwah. Peranan televisi dirasakan semakin penting, akibat semakin canggihnya teknologi komunikasi dan informasi. Berbagai ide, gagasan, pesan, ajaran dan ideologi dapat disampaikan secara luas melalui pemanfaatan. televisi. Televisi amat sesuai digunakan sebagai salah satu media penyiaran dakwah.
Kecamatan Idi Rayeuk yang merupakan salah satu Ibu kota
Kabupaten Aceh Timur yang ada dibawah naungan Propinsi NAD yang mana masyarakat
Kecamatan Idi Reyeuk 35.250 jiwa, yang luas wilayahnya 134,75 km2 dibagi dalam
48 (empat puluh delapan) gampong.
Salah satu cara yang paling mudah untuk menyampaikan
atau memberi informasi kepada masyarakat pada umumnya yang mayoritas
penduduknya hidup yang terpisah antara desa satu dengan lainnya. Maka lewat
media ini dapat menjadi salah satu alternatif untuk penyampaian dakwah, lewat
media elektronik televisi. Menurut data statistik Kabupaten Aceh Timur tahun
2006 Kecamatan Idi Rayeuk dari 48 (empat puluh delapan) gampong dan pada
umumnya masyarakat sudah memiliki televisi dirumah-rumah penduduk. Dan
menggunakan semua siaran televisi sebagai sarana informasi dan ini memberikan
peluang bagi khalayak untuk lebih banyak menonton.
Berdasarkan jumlah penonton dan jumlah televisi yang
dimiliki setiap penduduk, maka dapatlah dipandang bahwa televisi merupakan
media yang paling banyak peminatnya. Program-program agama yang disiarkan
melalui televisi, akan berupaya menjangkau lebih dari 38.03 % khalayak didaerah
yang sangat luas dalam waktu yang sama. Dari 127.126 orang penduduk Kecamatan
Idi Rayeuk. Sekitar 48.350 orang (38.03 %) yang selalu menonton televisi,
adapun sebanyak 40.548 orang (31.90 %) yang selalu mendengar radio dan 38.228
orang (30.07 %) membaca surat kabar dan majalah.
Berdasarkan data statistik tersebut maka dapat diketahui bahwa televisi merupakan media yang paling benyak penggunaannya. Informasi keagamaan di televisi dapat menjangkau mayoritas masyarakat Kecamatan Idi Rayeuk dan masyarakat gampong secara serentak.Acara-acara agama yang disiarkan selalu melalui televisi dapat didengar dan ditonton oleh masyarakat gampong. Begitu juga masyarakat yang ada di Idi yang serba sibuk ternyata dapat juga meluangkan waktu untuk mendengar dan menonton acara-acara agama yang disiarkan melalui televisi. Karena itu, televisi dapat dipergunakan sebagai media alternatif untuk penyiaran agama.
Berdasarkan data statistik tersebut maka dapat diketahui bahwa televisi merupakan media yang paling benyak penggunaannya. Informasi keagamaan di televisi dapat menjangkau mayoritas masyarakat Kecamatan Idi Rayeuk dan masyarakat gampong secara serentak.Acara-acara agama yang disiarkan selalu melalui televisi dapat didengar dan ditonton oleh masyarakat gampong. Begitu juga masyarakat yang ada di Idi yang serba sibuk ternyata dapat juga meluangkan waktu untuk mendengar dan menonton acara-acara agama yang disiarkan melalui televisi. Karena itu, televisi dapat dipergunakan sebagai media alternatif untuk penyiaran agama.
Penyiaran agama melalui televisi sudah dilakukan untuk
pembinaan nilai-ilai keagamaan sejak media tersebut muncul di Indonesia pada
tahun 1976. Namun belum banyak yang diketahui mengenai hal-hal yang menyangkut
dengan keadaan tersebut, baik aspek isi atau materi siaran maupun minat
masyarakat untuk menonton siaran-siaran agama.
Media televisi sama-sama kita tahu dewasa ini senantiasa
menyiarkan siaran yang ada kaitannya dengan agama, namun tidak dapat diketahui
secara pasti bagaimana minat khalayak menonton program siaran agama yang
disiarkan melalui media elektronik tersebut. Pihak media tidak dapat mengetahui
minat khalayak terhadap isi siaran agama, terhadap tema siaran, bentuk penyampaiannya
dan juga sumber atau komunikator siaran agama. Apabila hal ini tidak diketahui
secara pasti, maka dapat menjadi salah satu faktor penyebab kurangnya minat
masyarakat untuk menonton program agama yang disiarkan di media televisi.
Masalah ini perlu diketahui sebagai suatu usaha untuk meyesuaikan berbagai
aspek yang menyangkut dengan penyiaran agama di televisi dengan minat dan
keinginan khalayak. Karena itu, peneliti merasa tertarik untuk mendalami
masalah pola menonton siaran agama di televisi dan pengaruhnya terhadap
pengamalan agama masyarakat Islam di Kecamatan Idi Rayeuk Kabupaten Aceh Timur.
Menurut data yang diperoleh statistik Aceh Timur tahun 2006 bahwa, jumlah pengguna media elektronik di Kecamatan Idi Rayeuk jauh lebih ramai.
Menurut data yang diperoleh statistik Aceh Timur tahun 2006 bahwa, jumlah pengguna media elektronik di Kecamatan Idi Rayeuk jauh lebih ramai.
B. Identifikasi Masalah
Pemanfaatan media televisi dalam penyiaran agama Islam
merupakan salah satu cara atau strategi yang ditempuh dalam menyampaikan ajaran
agama. Islam sebagai agama dakwah, mewajibkan umatnya untuk menyampaikan ajaran
Islam dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Ada berbagai permasalahan yang muncul
berkaitan dengan analisi isi materi dakwah dalam televisi sebagai berikut.
1. Metode panyampaian agama yang
digunakan oleh da’i tidak serta merta mampu memudahkan materi sampai kepada
khalayak karena faktor lapisan sosial masyarakat Islam.
2. Isi ceramah agama yang dikemas
oleh da’i atas permintaan para pengelola atau produksi siaran agama pada
televisi.
3. Aspek ajaran agama dalam isi
ceramah belum tentu sesuai dengan keperluan psikologis dan sosiologis umat
Islam.
4. Penggunaan bahasa dalam
penyampaian isi ceramah agama cenderung terlalu tinggi, atau ilmiah dalam
pandangan umat Islam.
5. Pendengar siaran agama yang
disiarkan di televisi tidak sistematis sebagaimana pembahasan dalam fiqih, tauhid,
akhlak dan muamalah sehingga kesannya cenderung kurang mempengaruhi pengamalan
agama.
6. Pendengar siaran agama di
televisi dapat pindah siaran dari satu siaran televisi ke televisi lainnya yang
lebih disenanginya.
C. Pembatasan Masalah
Banyak faktor yang mempengaruhi pengamalan agama umat
Islam dalam perspektif komunikasi dan dakwah Islam. Ada faktor internal yang berasal dari para
penonton siaran agama Islam di televisi, diantaranya, faktor minat, motivasi,
kecerdasan, pemanfaatan waktu (pola). Selain itu adapula yang dikelompokkan
kepada faktor eksternal yaitu di antaranya : isi materi ceramah, metode, gaya da’i atau
penceramah, pendekatan yang digunakan, manajemen siaran.
Untuk memudahkan penelitian ini sesuai dengan kemampuan
peneliti, maka perlu dibatasi masalah yang akan diteliti, yaitu : pola menonton
siaran agama sebagai variabel bebas (X) dan pengamalan agama (shalat dan puasa)
sebagai variabel terikat (Y).
D. Perumusan Masalah
Yang menjadi masalah utama dalam penelitian ini adalah :
1. Bagaimanakah
pola menonton siaran agama di televisi oleh umat Islam di Kecamatan Idi Rayeuk
?
2. Bagaimanakah
tingkat pengamalan agama umat Islam yang menonton siaran agama televisi di
kecamatan Idi Rayeuk ?
3. Bagaimana
pola menonton siaran agama di televisi dan pengaruhnya terhadap pengamalan
agama umat Islam di Kecamatan Idi Rayeuk ?
E. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan sebagai
berikut :
- Untuk mengetahui pola menonton siaran agama di televisi oleh
umat Islam di Kecamatan Idi Rayeuk.
- Untuk mengetahui tingkat pengamalan agama umat Islam penonton
siaran televisi di Kecamatan Idi Rayeuk.
- Untuk mengetahui pengaruh pola menonton siaran agama di
televisi terhadap pengamalan agama umat Islam di Kecamatan Idi Rayeuk.
F. Kegunaan Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat berguna sebagai berikut :
- Dapat menjadi bahan masukan terutama bagi pihak pengelola
siaran agama di televisi dalam rangka meningkatkan kualitas penyiaran
agama di televisi sesuai dengan minat dan keinginan khalayak.
- Dapat menjadi bahan masukan bagi pihak-pihak yang memerlukan
informasi tentang penyiaran agama di televisi serta minat masyarakat untuk
menontonnya.
- Sebagai bahan bagi pengembangan teori komunikasi dan dakwah
dalam membantu meningkatkan pengamalan agama di kalangan umat Islam.
G. Hasil Penelitian
Terdahulu
Penelitian tentang penonton siaran agama di televisi
yang berorientasi agama dilakukan oleh Abelman, di Amerika serikat sebanyak 210
orang responden yang berusia antara 23-78 tahun telah diminta mengisi angket
yang bertujuan untuk mengukur pola penontonan televisi yang meliputi daya tarik
menonton, program yang disukai dan motif menonton televisi.
Lebih lanjut Abelman (1987) menemukan bahwa responden
rata-rata menonton siaran agama di televisi selama 2,34 jam sehari. Program agama
yang mereka tonton ialah seremonial (3,66 %), berita agama (3,51%), percakapan
(3,45 %), musik bernafaskan agama (3,36 %), pertunjukan anak-anak berbau agama
(3,32 %), pengabdian (3,10 %), pengajian (2,42 %), peran agama (2,41 %), drama
agama (2,33 %), permainan (2,25 %), olah raga bernafaskan agama (2,32 %), dan
film bernafaskan agama (1,29 %).
Motivasi mereka menonton siaran agama di televisi ialah untuk mendapatkan informasi (3,84 %), tidak merasa puas dengan siaran-siaran yang bernafaskan komersial (3,77 %), mendapat bimbingan keagamaan (3,52 %), sebagai hiburan (3,49 %), menghindarkan diri dari televisi yang bersifat komersial (3,44 %), mereka dekat kepada Tuhan (3,19 %), agama sebagai sesuatu yang penting dalam hidup (2,95 %), dorongan moral (2,79 %), persaudaraan (2,56 %), persahabatan (2,47 %), ekonomi/tidak mahal (2,23 %), kebiasaan (2,19 %), menenangkan perasaan (2,15 %), topik untuk berkomunikasi/bahan diskusi (2,07 %), bimbingan prilaku (2,05 %), periklanan (1,82 %), istirahat (1,73 %), ganti berkunjung ke rumah ibadah (1,70 %) dan hubungan sosial (1,63 %).
Motivasi mereka menonton siaran agama di televisi ialah untuk mendapatkan informasi (3,84 %), tidak merasa puas dengan siaran-siaran yang bernafaskan komersial (3,77 %), mendapat bimbingan keagamaan (3,52 %), sebagai hiburan (3,49 %), menghindarkan diri dari televisi yang bersifat komersial (3,44 %), mereka dekat kepada Tuhan (3,19 %), agama sebagai sesuatu yang penting dalam hidup (2,95 %), dorongan moral (2,79 %), persaudaraan (2,56 %), persahabatan (2,47 %), ekonomi/tidak mahal (2,23 %), kebiasaan (2,19 %), menenangkan perasaan (2,15 %), topik untuk berkomunikasi/bahan diskusi (2,07 %), bimbingan prilaku (2,05 %), periklanan (1,82 %), istirahat (1,73 %), ganti berkunjung ke rumah ibadah (1,70 %) dan hubungan sosial (1,63 %).
Di samping itu, dia menemukan bahwa orang yang kuat
beragama mempunyai hubungan dengan kecenderungan menonton siaran agama di
televisi. Menurut penelitian Abelman bahwa; adanya yang menonton stasiun
televisi komersial yang tidak menyiarkan agama sama sekali. Namun demikian,
mereka menonton stasiun televisi agama hanya sebagai alternatif saja, bukan
karena mereka merasa bahwa medium itu sebagai sesuatu yang penting bagi hidup
mereka.
Selanjutnya penelitian Lenish (195), Rubin dan Rubin
(1982), penggunaan media berbeda berdasarkan usia. Menurut hasil penelitian
Katz, et.al. (1974) pula pengguna media berbeda berdasarkan jenis kelamin,
dapat juga berbeda akibat pengaruh gaya
hidup seseorang (Eastman, 1979), Ostman dan Jeffers (1980).
Menurut Buddenbaum (1981) dan Gandhy (1984), ciri-ciri
khalayak penonton stasiun televisi agama di Amerika Serikat ialah orang yang
lebih tua, lebih miskin tingkat pendidikan rendah dan lebih terbelakang.
Menurut Gandhy dan Pritshard (1985) pula, ciri-ciri khalayak penonton stasiun
televisi agama itu ialah aktif dalam aktifitas-aktifitas agama, pengikut agama
yang setia, lebih konservatif dalam keyakinan agama, nilai hidup dan sikap.
Di samping itu, sejumlah tinjauan untuk mengukur
bagaimana respon khalayak terhadap siaran-siaran agama di televisi, telah
dilakukan oleh bahagian Penyelidikan Kementerian Penerangan Malaysia. Kajian
tinjauan tersebut, dua diantaranya meneliti semua siaran agama yang disiarkan
di televisi Malaysia .
Secara umum, siaran-siaran agama di televisi telah menarik perhatian sejumlah
besar penonton sebagaimana yang dikemukakan oleh kedua penelitian tersebut.
Peneliti pertama yang dilakukan pada bulan Januari tahun 1983, menggambarkan
bahwa 98 % dari 399 responden menonton program tersebut. Pada penelitian
tinjauan lain yang dilakukan pada tahun 1990, bahwa 93 % dari 771 responden
juga menonton siaran agama di televisi.
Namun demikian, sebahagian penonton tidak menonton
siaran agama di televisi dengan serius atau sungguh-sungguh, mereka tetap
menonton tanpa mempertimbangkan siaran agama apa yang disiarkan televisi.
Sebahagian pula menonton sambil makan, berbicara, membaca dan sebagainya.
Alasan mereka yang tidak menonton siaran agama di televisi ialah bahwa acara
agama di televisi tidak menarik, agama disiarkan pada masa yang tidak sesuai,
masih adanya yang tidak mempunyai pesawat televisi, kurangnya waktu untuk
nonton dan sakit.
Menurut Shannon Ahmad dan Ellias Zakaria. Beberapa
faktor penyebab khalayak tidak menonton siaran agama di televisi ialah (1)
bentuk dan isi siaran agama di televisi tidak menarik minat penonton, (2).
Bentuk percakapan dan penyampaian siaran agama di televisi mengecilkan hati
sejumlah besar penonton remaja, sebab siaran-siaran agama paling sedikit
berisikan hiburan yang menarik para remaja, (3). Isi siaran agama di televisi
terlalu ilmiah, sehingga hanya sesuai bagi orang-orang tertentu dan (4).
Berbagai jenis promosi atau iklan secara efisien tidak digunakan oleh produser
siaran agama untuk menarik minat penonton dalam menonton siaran agama di
televisi.
Kemudian penelitian Nasrillah (2002), yang berjudul
“Minat Masyarakat Medan Menonton Siaran Agama di Televisi” dengan jumlah
responden sebanyak 100 orang dari kalangan kaum bapak dan kaum ibu,
menyimpulkan bahwa siaran-siaran agama di televisi masih sedikit dan dipandang
masih kurang dan belum dapat memenuhi kebutuhan masyarakat Medan yang mayoritas
penduduknya beragama Islam. Masyarakat Kota Medan tergolong penonton televisi
kelas berat (heavy viewer), yakni rata-rata menonton televisi 2-3 jam perhari.
Bentuk penyampaian siaran agama yang paling banyak disukai atau diminati
pemirsa adalah lagu-lagu Islami, ceramah dan dialog interaktif, sedangkan yang
lebih banyak digunakan televisi dalam menyiarkan agama adalah ceramah dan dalam
bentuk diskusi.
Penelitian yang dilakukan Mohd Rafiq (2007) berjudul
“Pengaruh Pola Menonton Sinetron Keagamaan di Televisi Terhadap Ketaatan
Beragama siswa MAN 1 Kota Binjai”. Penelitian ini berupaya untuk mengungkapkan
tentang adanya pengaruh menonton sinetron keagamaan terhadap ketaatan beragama
siswa MAN 1 Binjai, melalui 90 orang sampel penelitian.
BAB II
LANDASAN TEORI, KERANGKA
BERFIKIR DAN HIPOTESIS
A. Landasan Teori
Pendekatan teori yang digunakan dalam penelitian ini
ialah teori “Pengguna dan Kepuasan (User and Graffcations). Teori pengguna dan
kepuasan bukan berarti baru. Pada dekade 1940-an, para sarjana di Amerika
Serikat telah mengkaji kenapa khalayak menggunakan berbagai media, seperti kuiz
radio, membaca buku-buku komik, membaca surat
kabar. Berelson (1954) misalnya menemukan bahwa khalayak membaca surat kabar untuk
mengetahui informasi penting dan untuk mendapat teman. Pada dekade 1960-an dan
1970-an banyak dilakukan penyelidikan secara sistematik berdasarkan teori.
Tokoh yang sering dihubungkan dengan pendekatan pengguna dan kepuasan ialah Blumer dan Katz. Mereka telah menggariskan sejumlah pendapat dasar teori dan metodologi untuk teori ini. Walaupun didapati banyak perbedaan dari segi pendekatan dan pengukuran keperluan individu dan fungsi mediamassa ,
namun teori pengguna dan kepuasan berasaskan kepada suatu pendapat umum, yaitu
:
Tokoh yang sering dihubungkan dengan pendekatan pengguna dan kepuasan ialah Blumer dan Katz. Mereka telah menggariskan sejumlah pendapat dasar teori dan metodologi untuk teori ini. Walaupun didapati banyak perbedaan dari segi pendekatan dan pengukuran keperluan individu dan fungsi media
- Pengguna media massa adalah untuk memenuhi keperluan-keperluan
tertentu. Keperluan itu dapat membangun lingkungan sosial.
- Individu atau khalayak memilih jenis media massa dan isi media
yang dapat memenuhi keperluan-keperluan mereka. Audien mempunyai kekuasaan
yang dapat lebih besar untuk memilih media massa dan isi media
dibandingkan degan kekuasaan media massa untuk mempengaruhi mereka.
- Ada sumber-sumber lain selain media massa yang dapat memberikan
kepuasan kepada individu dan media massa harus bertanding dengan
sumber-sumber tersebut. Contohnya : keluarga, teman-teman, tidur dan
aktivitas lain yang dapat mengisi waktu senggang.
- Audien sadar akan keperluan itu, dan mereka juga mempunyai
alasan kenapa mereka menggunakan media massa tertentu (Katz dan Foulkes,
1962 ; Katz, et-al, 1978; Blumer, 1979; Blumer, 1985, Littejohn, 1989).
Katz et. al. (1973) membagi keperluan-keperluan audien
dalam kaitannya dengan media kepada lima kategori, yaitu :
- Keperluan kognitif, yaitu keperluan akan informasi, pengetahuan
dan pemahaman tentang lingkungan.
- Keperluan afektif, yaitu keperluan-keperluan yang menyangkut
dengan keindahan, kesenangan dan pengalaman-pengalaman kerohanian.
- Keperluan individu yaitu keperluan yang dapat memperkuat rasa
percaya kepada diri sendiri, kestabilan dan status pribadi (harga diri).
- Keperluan menjalin hubungan sosial, yaitu keperluan yang dapat
meningkatkan hubungan akrab dengan keluarga, dengan teman-teman dan
masyarakat luas.
- Keperluan untuk hiburan.
Palmgreen & Raybum (1979-1985),
mencoba memodifikasi teori pengguna dan kepuasan dengan cara memadukannya
dengan model pengharapan nilai (ecpectancy-value model). Menurut Palmgreen
(1984), tujuan khalayak dalam kehidupan di dunia adalah sesuai pengharapan
(kepercayaan) dan penilaian mereka. Penonton media dipandang dapat memperoleh
kepuasan yang merupakan aplikasi dari pada nilai pengharapan.
Palmgree & Raybun (1982)
mengartikan pencarian kepuasan (grafication sought) sebagai kepercayaan
seseorang tentang apa yang dapat diberikan oleh media, dan penilaian seseorang
tentang apa yang dapat diberikan oleh media dan penilaian seseorang terhadap
isi media. Misalnya, individu “A” percaya bahwa media berisi unsur hiburan, dan
dia menilai bahwa hiburan itu adalah baik; kemudian di “A” akan memenuhi
kepuasannya dengan cara menonton media yang berisi hiburan. Sebaliknya, mungkin
orang lain yakin bahwa siaran tersebut tidak menarik, dan dia menilai bahwa
siaran tersebut sebagai suatu hal yang buruk. Oleh karena itu, dia akan
menghindarinya atau tidak akan menontonnya.
Individu mempunyai
kepercayaan-kepercayaan tertentu terhadap sesuatu program berdasarkan
penilaiannya sendiri terhadap program tersebut. Kepercayaan dan penilaian
khalayak perlu untuk memastikan jenis program yang dapat memberikan kepuasan
kepada khalayak. Keadaan ini digambarkan sebagai berikut :
Skema 1 : Model pengharapan nilai dari pencarian dan perolehan
kepuasan.
Kombinasi diantara kepercayaan keagamaan dan penilaiaan
terhadap media dan isi media dapat membawa kesan yang positif atau negatif.
Seseorang yang memilih untuk menggunakan media dan isi media adalah karena ia
memandangnya sebagai suatu hal yang positif dan tidak bertentangan dengan
kepercayaan dan nilai-nilai pribadinya. Sebaliknya, apabila individu menganggap
media atau isi media sebagai sesuatu yang negatif, dalam arti bertentangan
dengan kepercayaan dan nilai-nilainya maka
ia akan menghindarinya.
Keadaan ini dapat digambarkan seperti skema 2 :
Kepercayaan Penilaian
Negatif Positif
Tidak Pendekatan
Negatif Pencarian
Alternative
Ya Mengelak
secara benar Pendekatan
Positif
Skema 2 : Bentuk dorongan media.
Skema 2 : Bentuk dorongan media.
Sumber (Littlejohn, S.W.1989, Theories of Human
Communication, California : Wadsworth Publising Company, Figure 13.4, p.276.
B. Penyiaran Agama Dakwah
Dakwah Islam telah berlangsung sepanjang sejarah
kehidupan umat Islam. Kejayaan umat Islam pada zamannya sangat ditentukan oleh
dakwah yang dijalankan oleh Rasulullah beserta para sahabatnya yang kemudian
dilanjutkan oleh para muballigh, ustaz dan guru agama. Berkaiatan dengan hal
ini, dijelaskan bahwa sejarah perkembangan agama tauhid menunjukkan bahwa
kebenaran yang diturunkan Allah terus menerus dapat berkembang dengan baik,
disebarluaskan melalui dakwah oleh para nabi, Rasul, ulama dan muballigh.
Adapun pengorganisasian dakwah di televisi, kegiatannya
baik dilakukan individu apalagi kelompok sebenarnya memerlukan organisasi atau
pengorganisasian. Demikian pula organisasi dakwah memerlukan managemen yang
dijalankan oleh pemimpin organisasi-organisasi dakwah. Sementara masing-masing
pimpinan organisasi dakwah memiliki strategi tersendiri dalam mengefektifkan
organisasi dakwah yang dipimpinnya sehingga tercapai tujuan dakwah yang
direncanakan.
Selanjutnya Lewis, menjelaskan bahwa “an Organization is
any group of people who have a primary goal and operate as a unit to achieve
that goal”. Dari pendapat ini dipahami bahwa organisasi ialah suatu kelompok
orang tertentu yang memiliki tujuan utama dan bekerja sebagai suatu kesatuan
untuk mencapai tujuan tertentu.
Sejalan dengan pendapat diatas, organisasi juga dapat dipahami dari pendapat Mondy dan Premeauk bahwa : an organization is two or more people working together in a coordinated manner to achieve group result. Berarti sebuah organisai merupakan kerjasama dua orang atau lebih dalam keadaan terpadu untuk mencapai tujuan bersama atau kumpulan.
Sejalan dengan pendapat diatas, organisasi juga dapat dipahami dari pendapat Mondy dan Premeauk bahwa : an organization is two or more people working together in a coordinated manner to achieve group result. Berarti sebuah organisai merupakan kerjasama dua orang atau lebih dalam keadaan terpadu untuk mencapai tujuan bersama atau kumpulan.
Dengan demikian sebuah organisasi merupakan wadah bagi
pengelolaan kegiatan dakwah, seperti halnya dengan televisi. Dan dakwah
dikelola secara kelompok orang (pimpinan dan anggota) dengan menggunakan
managemen. Dalam konteks ini hubunagn tersebut adalah hubungan antara wadah
dengan isi. Organisasi sebagai wadah sedangkan dakwah adalah isi, sehingga
sebuah organisasi disebut sebagai organisasi dakwah.
Kehadiran organisasi merupakan fenomena kehidupan modern, karena perwujudan organisasi mengakar pada kompleksitas tuntutan hidup yang hanya dapat dicapai dengan bekerjasama dalam wadah tertentu. Oleh karenanya keberadaan berbagai organisasi keagamaan sangat strategis perannya dalam perkembangan dakwah Islam. Demikianlah yang dijumpai dalam realitas sosial, Seorang muslim di manapun dan kapanpun, dikota
maupun di desa, wajib mengadakan perubahan baik secara individu maupun secara
kelompok. Perubahan tersebut harus sesuatu perubahan yang Islami, menyeluruh
dan terpadu. Karena itu tugas dan tanggung jawab dakwah Islam sebagai proses
merubah keadaan menjadi Islami sangat berat dan kompleks sifatnya. Hal ini
dapat dirasakan karena melibatkan banyak unsur di dalam pelaksanaannya. Dengan
meninggalkan atau mengurangi fungsi salah satu unsur pelaksanaan dakwah berarti
pula mengurangi efektifitas dan efisiensi dakwah.
Kehadiran organisasi merupakan fenomena kehidupan modern, karena perwujudan organisasi mengakar pada kompleksitas tuntutan hidup yang hanya dapat dicapai dengan bekerjasama dalam wadah tertentu. Oleh karenanya keberadaan berbagai organisasi keagamaan sangat strategis perannya dalam perkembangan dakwah Islam. Demikianlah yang dijumpai dalam realitas sosial, Seorang muslim di manapun dan kapanpun, di
C. Kerangka Pikir
Berdasarkan landasan teori tersebut, maka kerangka pikir
teori pola memonton siaran agama di televisi sebagai variabel X dan pengamalan
agama sebagai variabel Y.
D. Hipotesis
Adapun hipotesis penelitian ini yaitu : “pola menonton
siaran agama di televisi berpengaruh secara signifikan terhadap pengamalan
agama umat Islam di Kecamatan Idi Rayeuk Kabupaten Aceh Timur.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian ini adalah wilayah Kecamatan Idi
Rayeuk yang merupakan salah satu pusat ibu kota Kabupaten Aceh Timur yang ada
dibawah Provinsi NAD yang mana masyarakat Islam tersebar kedalam 48 Gampong
dalam wilayah Kecamatan Idi Rayeuk Kabupaten Aceh Timur. Adapun subjek
penelitian yaitu mereka yang terjangkau dan mengakses siaran televisi Indonesia ,
khususnya siaran agama Islam dalam berbagai waktu dan kesempatan dan penyiaran.
B. Populasi dan Sampel
- Populasi
Populasi penelitian ini adalah masyarakat Islam
Kecamatan Idi Rayeuk Kabupaten Aceh Timur yang mengakses siaran agama pada
televisi Indonesia, meliputi : TVRI, TPI, SCTV, RCTI, ANTV, INDOSIAR, LATIVI,
TV7, TRANS7.
- Sampel
Adapun yang menjadi sampel wilayah mencakup pada ketiga
Gampong yaitu Kelurahan Gampong Jawa, Ketapang Mameh dan Gampong Baro.
Selanjutnya penetapan sampel/responden ini adalah menggunakan teknik purposive
random sampling atau sampel bertujuan hanya sampel yang menonton siaran agama
di televisi yang akan dipilih dan ditetapkan menjadi sampel dalam penelitian
ini.
C. Defenisi Operasional
Ada dua variabel yang akan diteliti dalam penelitian
ini, yaitu pola menonton siaran agama di televisi sebagai variabel bebas (X),
dan pengamalan agama umat Islam sebagai variabel terikat (Y).
- Pola menonton Siaran Agama
Siaran agama dalam penelitian ini
adalah suatu kegiatan penyampaian pesan atau nilai-nilai agama melalui siaran
televisi dalam rangka mempengaruhi pendengar untuk mengetahui, menghayati,
memahami dan mengamalkan ajaran agama. Pola menonton siaran agama yang
ditayangkan di televisi Indonesia berisikan sub variable yaitu persentase
siaran keagamaan, lama siaran, waktu-waktu penyiaran, tema siaran agama, bentuk
penyampaian, lamanya waktu menonton.
2. Pengamalan agama dalam penelitian
ini diartikan sebagai ajaran agama yang dilaksanakan oleh umat Islam yang
menonton siaran agama pada televisi Indonesia. Adapun variabel pengamalan agama
yaitu : latar belakang mengamalkan, tujuan dan manfaat yang dirasakan dalam
mengamalkan shalat dan puasa ramadhan.
D. Alat Pengumpulan Data
Adapun Instrumen pengumpulan data dalam penelitian ini
adalah kuesioner (angket) untuk mengukur variabel pola menonton siaran agama
yang diikuti oleh responden penelitian ini, dan sekaligus untuk mengukur
pengamalan agama responden sebagai akibat yang ditimbulkan oleh pola menonton
siaran agama pada berbagai televisi yang mereka tonton, baik pada pagi/subuh,
sore atau malam hari.
Adapun kisi-kisi angket yang akan ditanyakan dalam angket tertutup adalah berkaitan dengan :
Adapun kisi-kisi angket yang akan ditanyakan dalam angket tertutup adalah berkaitan dengan :
1.
Profil dan demografi penonton
2. Jumlah waktunya menonton siaran agama di televise
3. Jumlah siaran agama yang ditontonnya
4. Tema siaran agama yang ditontonnya
5. Pendapat responden tentang keberadaan siaran agama di televise
6. Motivasi responden menonton siaran agama di televise
7. Motivasi responden memilih siaran agama pada beberapa televise
8. Sikap responden terhadap bentuk penyiaran agama di televise
9. Sikap penonton terhadap bahasa yang digunakan dalam penyiaran agama
di televisi.
10. Pengamalan agama yang dilaksanakan dalam kehidupan responden setelah
selama ini mengikuti siaran agama di televisi, baik pengamalan shalat maupun
puasa ramadhan, latar belakang mengamalkan ajaran agama, tujuan, manfaat, kesan
dalam mengamalkan ajaran agama.
E. Skala Pengukuran
Skala yang digunakan adalah skala Likert adalah alat
ukur mengenai sikap, pendapat dan persepsi seseorang atau sekelompok orang
tentang gejala sosial. Skala Likert diciptakan dan diperkenalkan oleh Likert.
Dalam penggunaannya, peneliti lebih dahulu menetapkan secara spesifik
variabel-variabel penelitian lengkap dengan indikator-indikator setiap
variabel. Indikator-indikator ini kemudian dijadikan sebagai titik tolak untuk
menyusun instrumen penelitian dalam bentuk pertanyaan atau pernyataan. Jawaban
dari setiap pertanyaan itu mempunyai tingkatan mulai dari sangat positif sampai
sangat negatif seperti contoh berikut:
- Sangat setuju Sangat positif Sangat sering
- Setuju Positif Sering
- Ragu-ragu Netral Kadang-kadang
- Tidak setuju Negatif Hampir tidak pernah
- Sangat tidak setuju Sangat negatif Tidak pernah
Penerapan skala Likert dalam bentuk ceklis dengan
menggunakan alternatif jawaban Sangat Setuju (SS), Setuju (S), Netral (N),
Tidak Setuju (TS), dan Sangat Tidak Setuju (STS).
Untuk data kedua variabel pola penyiaran agama di
televisi dikumpulkan melalui kuesioner model skala Likert, bahwa “this scale is
to register the ektend of agreement or disagreement with a particular statemet
of an attitude. Belief or judgement”. Kuesioner disusun dalam bentuk kontinue
dengan empat alternatif jawaban, sedangkan cara skoring bagi jawaban positif
diberi skor 4,3,2 dan 1 dan jawaban negatif diberi skor 1,2,3 dan 4.
F. Metode Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan
desain expost facto yaitu untuk menguji apa yang telah terjadi. Menurut Hajar,
penelitian expost facto untuk menetukan apakah perbedaan yang terjadi antar
kelompok subjek (dalam variabel independent) menyebabkan terjadinya perbedaan
pada variabel dependen. Penelitian ini dilaksanakan dengan pola kajian
korelatif dengan mengklasifikasikan variabel penelitian kedalam dua bab
kelompok yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Menurut Arikunto,
penelitian korelatif dimaksudkan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara
dua variabel atau lebih. Penelitian dengan kajian korelatif akan dapat
memprediksi hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat. Teknis
analisis yang digunakan adalah korelasi dan regresi.
Pendekatan analisisnya adalah analisis deskriptif dan
inferensial. Yang menurut Nazir, analisis deskriptif ialah suatu metode yang
memiliki suatu objek pada masa sekarang, Sedangkan analisis inferensial ialah
untuk memprediksi hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat. Korelasi
parsial akan melakukan korelasi antara satu variabel terikat, sedangkan
variabel lainnya di control.
G. Analisis Data
Hasil penelitian ini dianalisa dengan menggunakan
berbagai tehnik statistik. Analisis data dilakukan dengan bantuan program
computer SPSS versi 10,0 for windows, untuk pengujian-pengujian sebagai berikut
:
- Pengujian asumsi dasar / persyaratan analisis
a.
Pengujian uji normalitas data
menggunakan teknik chi quadrat
b. Uji homogenitas antar variabel independent dengan variabel dependent
dengan cara melihat Simpangan Bakunya.
c. Uji Linearitas garis dengan teknik regresi sederhana
- Pengujian Hipotesis
Hipotesis 1 dan 2 di uji dengan teknik korelasi sederhana.
BAB IV
PENUTUP
- Simpulan
- Saran
DAFTAR
PUSTAKA
Abdurrahman Al-Baghdadi, Dakwah
Islam dan Masa Depan Ummat Bangil : Al-Izzah, 1997.
Asiah Sarji, Penyiaran dan
Masyarakat : Isu-isu Perutuasan di Malaysia-arah dan Masalah ,Kuala Lumpur :
Dewan Bahasa dan Pustaka, 1990.
Bruce W Tuckman, Bruce, Conducting Educational ResearchNew York : Harcourt BraceJovanovich Inc,
1972.
Bruce W Tuckman, Bruce, Conducting Educational Research
Hamzah Ya’kub, Publisistik Islam
Bandung : CV.Diponegoro, 1981.
Ibnu Hajar, Dasar-dasar Metodologi Penelitian Kuantitatif Dalam Pendidikan Jakarta : Raja Grafindo Persada, 1996.
Ibnu Hajar, Dasar-dasar Metodologi Penelitian Kuantitatif Dalam Pendidikan Jakarta : Raja Grafindo Persada, 1996.
Moh. Azir, Metode Penelitian, Jakarta : Ghalia Indonesia , 1985.
Philip.V.Lewis, Organizational Communication ,New Jersey : John Willey and Sons, 1987.
Philip.V.Lewis, Organizational Communication ,
R. Abelman, Religious Television
Uses and Grafications, Jaurnal of Broadcasting and Elektronik Media, 1987.
R.W. Mondy and Shane R.Premeaux,
Mangement, Counsepts, Practice and Skills, New Jersey : Englewood Cliffs, 1995.
S.W.Littlejohn, Theories of Human
Communication, California : Wadsworth Publishing Company, Figure, 1989.
Suharsimi Arikunto, Manajemen
Penelitian , Jakarta : rajawali Press, 1993.
Sumber data: Badan Pusat Statistik
Aceh Timur, Tahun 2006.
Syukur Kholil, Metodologi
Penelitian Komunikasi Bandung: Citapustaka Media, 2006.
Sumber data: Dinas Statistik Kota
Langsa, Tahun 2006.
Sumber data: Dinas Statistik Kota
Langsa, Tahun 2006.
R.Abelman, Religious Television
Uses and Grafications, (Jaurnal of Broadcasting and Elektronik Media, 1987), h.
42.
Asiah Sarji, Penyiaran dan
Masyarakat : Isu-isu Perutuasan di Malaysia-arah dan Masalah ,( Kuala Lumpur :
Dewan Bahasa dan Pustaka, 1990), h. 92.
Ibid, h.12-13.
R.Abelman,Op-cit, h. 14.
S.W.Littlejohn, Theories of Human
Communication, ( California : Wadsworth Publishing Company, Figure, 1989), h.
275.
Hamzah Ya’kub, Publisistik Islam,
(Bandung : CV.Diponegoro, 1981), h. 123.
Philip.V.Lewis, Organizational Communication, (New Jersey : John Willey and Sons, 1987), h.11.
Philip.V.Lewis, Organizational Communication, (New Jersey : John Willey and Sons, 1987), h.11.
R.W. Mondy and Shane R.Premeaux..Mangement,
Counsepts, Practice and Skills, (New Jersey : Englewood Cliffs, 1995), h.202.
Abdurrahman Al-Baghdadi, Dakwah
Islam dan Masa Depan Ummat, (Bangil : Al-Izzah, 1997), h. 190.
Syukur Kholil, Metodologi
Penelitian Komunikasi (Bandung: Citapustaka Media, 2006), h. 144.
Bruce W Tuckman, Bruce, Conducting
Educational Research, ( New York : Harcourt BraceJovanovich Inc, 1972), h. 179.
Ibnu Hajar, Dasar-dasar Metodologi
Penelitian Kuantitatif Dalam Pendidikan, (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 1996),
h. 345.
Suhharsimi Arikunto, Manajemen
Penelitian, (Jakarta : rajawali Press, 1993), h. 73.
Moh. Azir, Metode Penelitian, (Jakarta : Ghalia Indonesia, 1985), h.12.
Moh. Azir, Metode Penelitian, (Jakarta : Ghalia Indonesia, 1985), h.12.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar